/* slider snp1 */

Sabtu, 19 November 2016

Gelar Aksi Damai, Warga Sulawesi Utara Tolak FPI. Ini Alasanya...!

MANADO - Sulut Tolak Front Pembela Islam (FPI). Itulah pernyataan utama dari Aksi Bela NKRI yang digawangi organisasi masyarakat Aliansi Makapetor bersama 17 ormas lainnya se Sulawesi Utara (Sulut), di Lapangan KONI Sario, Kamis (17/11) kemarin, seperti dilansir Manado Pos.

Karena persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus tetap dipertahankan. Ketua Umum Minaesaan Tombulu Sulut (MTS) Johny Sondak dalam orasinya menuturkan, segala bentuk kekerasan terhadap agama, suku, ras, dan golongan yang dilakukan ormas atau elemen berpaham radikal, harus segera dibubarkan. Mengingat organisasi yang berpaham radikalisme, jelas-jelas Anti Pancasila yang selalu mengajak dan memprovokasi rakyat. Sehingga mengakibatkan terpecah belahnya kesatuan bangsa.

Selanjutnya, kata Sondak, atas nama Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut), menilai dan menimbang aksi-aksi ormas yang kerap kali bersikap radikal dan meresahkan masyarakat dengan ajakan hasutan untuk membenci warga dan agama lain.

“Maka kami warga Sulut dalam bingkai NKRI, mendorong pemerintah Republik Indonesia untuk bersikap tegas menyikapi persoalan dan masalah bangsa,” seru Sondak, yang diikuti seruan I Yayat U Santi dari peserta aksi damai.

Menurut mereka, aksi kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab dengan menebarkan rasa kebencian terhadap warga mayoritas dan minoritas, berujung pada disintegrasi bangsa. “Seharusnya yang dijunjung tinggi adalah rasa cinta tanah air,” imbuh sejumlah orator.

Di hadapan Kapolda Sulut Irjen Pol Wilmar Marpaung dan Wakil Ketua Deprov Sulut Stefanus Vreeke Runtu, peserta aksi damai ikut menyuarakan permintaan tegasnya. Yaitu membubarkan ormas Front Pembela Islam (FPI) dari pusat hingga ke daerah.


“Karena ormas ini berlindung di belakang nama agama, namun memiliki agenda anarkis dan mengganggu ketenteraman masyarakat. Sangat bertentangan dan tidak menghormati Pancasila, khususnya sila ketiga Persatuan Indonesia,” kata mereka.

Menanggapi aksi damai ini, Marpaung berharap, semua ormas yang ada dapat menjaga keamanan di Sulut. Selama ini Sulut aman karena solidnya kerukunan beragama yang terus terjalin. “Torang samua basudara, baku-baku bae, baku-baku sayang (Kita semua bersaudara, saling menghormati dan menyayangi). Itu perlu dipertahankan. Karena torang semua adalah ciptaan Tuhan. Yang sama semua di mata-Nya, baik itu suku, agama dan ras. Tidak ada bedanya,” ucap Marpaung.

Jenderal bintang dua ini pun berterima kasih kepada masyarakat dan semua rekan-rekan ormas. Karena telah menyampaikan aspirasinya sesuai aturan hukum berlaku. “Ini bisa menjadi contoh bagi semua pihak, karena aksi ini berlangsung damai dan tertib,” ucap Marpaung, sambil memastikan, akan ikut mengawal apa yang menjadi perhatian dari peserta aksi damai yaitu memastikan NKRI tetap berdiri dengan kuat sampai kapan pun.

Di tempat yang sama, Stefanus Vreeke Runtu menyatakan menerima aspirasi ini. Dan siap menerukan permintaan peserta aksi damai kepada Gubernur Sulut dan Forkopimda, hingga ke pemerintah pusat. Aksi damai yang berlangsung sekira tiga jam ini, diikuti sekira 17 ormas. Di antaranya, Laskar Adat Manguni Indonesia, KBN Minut, M3, Garda Manguni, Brigade Waraney Malesung, Milisi Waraney, Mapatu, Aliansi Pendeta Indonesia, Manguni Esa, Laskar Kabasaran Sulut, Makatana Minahasa, LPM, Manguni Muda, DBN, Pemuda Pancasila, dan Pinaesaan Toutemboan. ***

0 komentar:

Posting Komentar